Yahoo Messager
Status YM

Buatlah Rencana Hidupmu Sendiri.

Buatlah Rencana Hidupmu Sendiri, Atau seumur hidup akan menjadi bagian dari rencana hidup orang lain

Action

Kalo mau BESAR berpikirlah menjadi BESAR

Kalau tidak Berubah saya akan KALAH - Kotaro Minami

Kebahagiaan sering datang kepada kita dalam bentuk kesakitan, kehilangan, dan kekecewaan, tapi dengan kesabaran, kita segera akan melihat bentuk aslinya

Rencana HIDUP

Tanpa Rencana, hidup kita hanya akan disibukkan dengan berpindah dari satu masalah ke maslah lainnya

Jangan takut melakukan

Jangan takut melakukan kesalahan, yang penting LURUSKAN NIAT lalu PERBAIKI

Saturday, 17 July 2010

8 Multiple Intelegency

People who are strong in the language intelligence enjoy saying, hearing, and seeing words. They like telling stories. They are motivated by books, records, dramas, opportunities for writing.

Here are ways to work with this intelligence in your lessons:

* Look at different kinds of dictionaries.

* Read plays and poetry out loud.

* Write a story for a book or newsletter.

* Keep a journal.

* Read from books written by or for new readers.

* Use a tape recorder to tape stories and write them down.

* Read together, i.e., choral reading.

* Read out loud to each other.

* Read a section, then explain what you've read.

* Read a piece with different emotional tones or viewpoints — one angry, one happy, etc.

* Trade tall tales, attend story-telling events and workshops.

* Explore and develop the love of words, i.e., meanings of words, origin of words and idioms, names. Research your name.

References:

BALIT. The Drum: Writings by Literacy Students of the Bay Area. Sacramento, California: California State Library Foundation, 1990.

Coleman, Audrey. Working in California. Sacramento, California: California State Library Foundation, 1991.

Lederer, Richard. The Play of Words. New York: Pocket Books, 1990

Series: New Writers' Voices. New York: Literacy Volunteers of New York.

Voices. New Writers for New Readers. Surrey, B.C., Canada: Voices, 1990.

Words on the Page, The World in Your Hands, Books 1-3. New York: Harper & Row, 1989.




Tracs

Wednesday, 7 July 2010

Ketika Tuhan menciptakan WANITA

malaikat datang dan bertanya..."Mengapa kau begitu lama menciptakan WANITA Tuhan???"

Tuhan menjawab, "Sudahkah engkau melihat setiap detail yang saya ciptakan untuk WANITA??"
"Dua tangannya mampu menjaga banyak anak pada saat bersamaan, punya pelukan yang dapat menyembuhkan sakit hati dan keterpurukan, dan semua itu hanya dengan 2 tangan".

Malaikat menjawab dan takjub," hanya dengan 2 tangan ???????? tidak mungkin!!!!!!!"

Tuhan menjawab "tidak kah kau tau,,,dia jg mampu menyembuhkan dirinya sendiri dan bisa bekerja 18 jam sehari ".

Malaikat mendekat dan mengamati WANITA tersebut, dan bertanya, " Tuhan,,,kenapa wanita terlihat begitu lelah dan rapuh ??????,,, seolah2 terlalu banyak beban baginya...."

Tuhan menjawab " itu tidak seperti yang kau bayangkan,,, itu adalah air mata...."

"untuk apa??????" tanya malaikat....

Tuhan melanjutkan " air mata adalah salah satu cara dia mengekspresikan kegembiraan,, kegalauan,, cinta,,, kesepian,,, penderitaan,,, dan kebanggaan.... serta wanita ini mempunyai kekuatan mempesona laki2...ini hanya beberapa kemampuan yang dimiliki WANITA....."
"dia dapat mengatasi beban lebih dari laki2,,,, dia mampu menyimpan kebahagiaan dan pendapatnya sendiri....."
"dia mampu tersenyum saat hatinya menjerit,,, mampu menyanyi saat menangis,,,menangis saat terharu,,,bahkan tertawa saat ketakutan...."
" dia berkorban demi orang yang dicintainya.."
" dia mampu berdiri melawan ketidakadilan..."
" dia menangis saat melihat anaknya adalah pemenang...."
" dia girang dan bersorak saat kawanya tertawa bahagia..."
" dia begitu bahagia mendengar suara kelahiran...."
" dia begitu bersedih mendengar berita kesakitan dan kematian,,, tapi dia mampu mengatasinya...dia tau bahwa sebuah ciuman dan pelukan dapat menyembuhkan luka...."

"CINTANYA TANPA SYARAT,,,,"


WCD

Thursday, 1 July 2010

Kisah Pohon Epal

Suatu masa dahulu, terdapat sebatang pohon epal yang amat besar. Seorang kanak-kanak lelaki begitu gemar bermain-main di sekitar pohon epal ini setiap hari. Dia memanjat pohon tersebut, memetik serta memakan epal sepuas-puas hatinya, dan adakalanya dia beristirahat lalu terlelap di perdu pohon epal tersebut. Anak lelaki tersebut begitu menyayangi tempat permainannya. Pohon epal itu juga menyukai anak tersebut.
Masa berlalu…
Anak lelaki itu sudah besar dan menjadi seorang remaja. Dia tidak lagi menghabiskan masanya setiap hari bermain di sekitar pohon epal tersebut. Namun begitu, suatu hari dia datang kepada pohon epal tersebut dengan wajah yang sedih.
“Marilah bermain-mainlah di sekitarku,” ajak pohon epal itu.
” Aku bukan lagi kanak- kanak, aku tidak lagi gemar bermain dengan engkau,” jawab remaja itu.
” Aku maukan permainan. Aku perlukan uang untuk membelinya,” tambah remaja itu dengan nada yang sedih.
Lalu pohon epal itu berkata, “Kalau begitu, petiklah epal-epal yang ada padaku. Juallah untuk mendapatkan uang. Dengan itu, kau dapat membeli permainan yang kauinginkan.”
Remaja itu dengan gembiranya memetik semua epal di pohon itu dan pergi dari situ. Dia tidak kembali lagi selepas itu. Pohon epal itu merasa sedih.
Masa berlalu… Suatu hari, remaja itu kembali. Dia semakin dewasa. Pohon epal itu merasa gembira.
“Marilah bermain-mainlah di sekitarku,” ajak pohon epal itu.
“Aku tiada waktu untuk bermain. Aku terpaksa bekerja untuk mendapatkan uang. Aku ingin membina rumah sebagai tempat perlindungan untuk keluargaku. Bolehkah kau menolongku?” Tanya anak itu.
“Maafkan aku. Aku tidak mempunyai rumah. Tetapi kau boleh memotong dahan- dahanku yang besar ini dan kau buatlah rumah daripadanya.” Pohon epal itu memberikan cadangan.
Lalu, remaja yang semakin dewasa itu memotong kesemua dahan pohon epal itu dan pergi dengan gembiranya. Pohon epal itu pun turut gembira tetapi kemudiannya merasa sedih karena remaja itu tidak kembali lagi selepas itu.
Suatu hari yang panas, seorang lelaki datang menemui pohon epal itu. Dia sebenarnya adalah anak lelaki yang pernah bermain-main dengan pohon epal itu. Dia telah matang dan dewasa.
“Marilah bermain-mainlah di sekitarku,” ajak pohon epal itu.
” Maafkan aku, tetapi aku bukan lagi anak lelaki yang suka bermain-main di sekitarmu. Aku sudah dewasa. Aku mempunyai cita-cita untuk belayar. Malangnya, aku tidak mempunyai boat. Bolehkah kau menolongku?” tanya lelaki itu.
“Aku tidak mempunyai boat untuk diberikan kepada kau. Tetapi kau boleh memotong batang pohon ini untuk dijadikan boat. Kau akan dapat belayar dengan gembira,” kata pohon epal itu.
Lelaki itu merasa amat gembira dan menebang batang pohon epal itu. Dia kemudiannya pergi dari situ dengan gembiranya dan tidak kembali lagi selepas itu.
Namun begitu, pada suatu hari, seorang lelaki yang semakin dimamah usia, datang menuju pohon epal itu. Dia adalah anak lelaki yang pernah bermain di sekitar pohon epal itu.
“Maafkan aku. Aku tidak ada apa-apa lagi untukdiberikan kepada kau. Aku sudah memberikan buahku untuk kau jual, dahanku untuk kau buat rumah, batangku untuk kau buat boat. Aku hanya ada tunggul dengan akar yang hampir mati…” kata pohon epal itu dengan nada pilu.
” Aku tidak mau epal mu karena aku sudah tiada bergigi untuk memakannya, aku tidak mau dahanmu karena aku sudah tua untuk memotongnya, aku tidak mau batang pohonmu kerana aku berupaya untuk belayar lagi, aku merasa lelah dan ingin istirahat,” jawab lelaki tua itu.
“Jika begitu, istirahatlah di perduku,” kata pohon epal itu.
Lalu lelaki tua itu duduk beristirahat di perdu pohon epal itu dan beristirahat. Mereka berdua menangis kegembiraan.
Pengajaran:
Sebenarnya, pohon epal yang dimaksudkan didalam cerita itu adalah kedua-dua ibu bapa kita. Bila kita masih muda, kita suka bermain dengan mereka. Ketika kita meningkat remaja, kita perlukan bantuan mereka untuk meneruskan hidup. Kita tinggalkan mereka, dan hanya kembali meminta pertolongan apabila kita di dalam kesusahan. Namun begitu, mereka tetap menolong kita dan melakukan apa saja asalkan kita bahagia dan gembira dalam hidup.
Anda mungkin terfikir bahwa anak lelaki itu bersikap kejam terhadap pohon epal itu, tetapi fikirkanlah, itu hakikatnya bagaimana kebanyakan anak-anak masa kini melayani ibu bapa mereka. Hargailah jasa ibu bapa kepada kita. Jangan hanya kita menghargai mereka semasa menyambut hari ibu dan hari bapa setiap tahun.”

Sumber: http://pengharapan.com/kisah-pohon-epal.html